Dari hitungan hari dan bulan, konflik yang mengkait KPK bukan lagi menjadi berita ringan layaknya infotainment...yang muncul sebagai hiburan. Tetapi harus disadari bersama ahli atau awam sekalipun akan mempunyai beberapa sisi pandang yang bisa sama, seperti misalnya bahwa ini bukan masalah "biasa" membutuhkan energi untuk menuntaskan...dan memang harus tuntas agar masyarakat dapat memetik pembelajaran bahwa "kebenaran harus ditegakkan". Rakyat jelata menantikan proses yang benar dan elegan...kita tunggu saja.
Munculnya tim independen pencari fakta menurut saya tetap bagai dua sisi mata uang, disatu sisi optimisme dan disisi lain pesimisme. Tapi, saya kira lebih bijak kiranya meletakkan harapan pada sisi optimisme. Seberapa persentase yang layak diberikan pada sisi optimisme itu? setiap orang pasti punya nilai yang berbeda.Saya punya nilai relatif kecil mungkin...30%. Kenapa? tentu tak asal muncul. Keberanian tim bentukan baru ini untuk "memilih dan memilah" informasi apapun mengenai awal dan perkembangan kasus KPK, verifikasi fakta hukum, pendapat ahli dan masyarakat tak berarti ringan walaupun sederet nama yang berkapabilitas ada disana.
Memilih dan memilah semua hal yang terkait meletakkan pada porsi yang sesungguhnya dan jangan dilupakan untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang temuan apa saja yang semestinya masyarakat tahu.
Bagai, menyelesaikan masalah apapun, upaya tetap harus dilakukan...kita tunggu
Senin, 02 November 2009
Senin, 20 April 2009
Dibalik 'Keruwetan' Pemilu 2009
Pemilu 9 April lalu memang sangat ditunggu-tunggu, bukan hanya sekedar hajat lima tahunan yang sudah berkali-kali dijalani bangsa Indonesia saja..tapi juga karena pelaksanaan yang beda dengan sebelumnya.
Bagaimana tidak ditunggu, dari sisi para Caleg...mereka menunggu kabar baik tentang kemungkinan melenggang ke kursi wakil rakyat yang dalam tanda petik sudah menyedot 'sumber daya' mereka yang tidak sedikit. Walhasil, ketika ada yang tidak sesuai keinginan tidak sedikit yang berurusan dengan rumah sakit karena serangat jantung, stroke..atau bahkan harus meninggalkan dunia fana ini. Sepertinya sikap dan kemampuan evaluasi diri yang kurang menjadi kendala tak terdeteksi, kemauan untuk sedikit ternama dimata masyarakat justru menjadi bumerang tajam.
Menjadi politisi seyogyanya adalah memiliki kapasitas yang seimbang dengan kebutuhan masyarakat, tidak cukup dengan modal dukungan dana, nama besar orang tua, dan kenekatan semata. Terutama bagi pendatang baru, masyarakat sepertinya tak bisa sekedar disuguhi dengan pampangan foto-foto disepanjang jalan, tapi juga prestasi dan keahlian. Karena ternyata yang sudah masuk ke jalur aman adalah (tanpa menyebutkan nama) individu yang memang punya kapasitas, prestasi dan keahlian. Masalah tidak selesai sampai disitu, mungkinkan beliau-beliau mampu mengemban aspirasi masyarakat (minimal pemilihnya). Semoga ini bagian dari do'a, memilih karena percaya akan terwakili.
Jika dilihat dari sisi pemilih, memang ditunggu..mereka segera ingin merasakan 'sensasi' memilih wakil mereka langsung karena taka lagi memilih 'kucing dalam karung'. Tapi, bingung juga..mana yang mau dipilih..pertama tidak mengenal atau kedua ternyata banyak caleg yang dikenal. Tapi pilihan tetap harus dijatuhkan, semoga terbaik dari yang baik. Kemudian, menjadi bagian dari sistem evaluasi seandainya yang dipilih dan ternyata terpilih ke kursi wakil rakyat melakukan tindakan keliru bahkan tak terpuji.
Penyelenggaraan Pemilu 2009 banyak menuai pro dan kontra, terlepas dari itu semua ini adalah pemilu dengan sistem yang teruwet...jadi penyimpangan, kesalahan dan dugaan manipulasi sah-sah saja tentunya selama bisa menunjukkan bukti dan menyampaikan dengan elegant.
Semoga yang berhasil menjadi wakil rakyat bisa mengemban amanah dan yang belum bisa menjadi wakil rakyat tetap legowo...dan berprestasi kembali untuk negeri ini
Bagaimana tidak ditunggu, dari sisi para Caleg...mereka menunggu kabar baik tentang kemungkinan melenggang ke kursi wakil rakyat yang dalam tanda petik sudah menyedot 'sumber daya' mereka yang tidak sedikit. Walhasil, ketika ada yang tidak sesuai keinginan tidak sedikit yang berurusan dengan rumah sakit karena serangat jantung, stroke..atau bahkan harus meninggalkan dunia fana ini. Sepertinya sikap dan kemampuan evaluasi diri yang kurang menjadi kendala tak terdeteksi, kemauan untuk sedikit ternama dimata masyarakat justru menjadi bumerang tajam.
Menjadi politisi seyogyanya adalah memiliki kapasitas yang seimbang dengan kebutuhan masyarakat, tidak cukup dengan modal dukungan dana, nama besar orang tua, dan kenekatan semata. Terutama bagi pendatang baru, masyarakat sepertinya tak bisa sekedar disuguhi dengan pampangan foto-foto disepanjang jalan, tapi juga prestasi dan keahlian. Karena ternyata yang sudah masuk ke jalur aman adalah (tanpa menyebutkan nama) individu yang memang punya kapasitas, prestasi dan keahlian. Masalah tidak selesai sampai disitu, mungkinkan beliau-beliau mampu mengemban aspirasi masyarakat (minimal pemilihnya). Semoga ini bagian dari do'a, memilih karena percaya akan terwakili.
Jika dilihat dari sisi pemilih, memang ditunggu..mereka segera ingin merasakan 'sensasi' memilih wakil mereka langsung karena taka lagi memilih 'kucing dalam karung'. Tapi, bingung juga..mana yang mau dipilih..pertama tidak mengenal atau kedua ternyata banyak caleg yang dikenal. Tapi pilihan tetap harus dijatuhkan, semoga terbaik dari yang baik. Kemudian, menjadi bagian dari sistem evaluasi seandainya yang dipilih dan ternyata terpilih ke kursi wakil rakyat melakukan tindakan keliru bahkan tak terpuji.
Penyelenggaraan Pemilu 2009 banyak menuai pro dan kontra, terlepas dari itu semua ini adalah pemilu dengan sistem yang teruwet...jadi penyimpangan, kesalahan dan dugaan manipulasi sah-sah saja tentunya selama bisa menunjukkan bukti dan menyampaikan dengan elegant.
Semoga yang berhasil menjadi wakil rakyat bisa mengemban amanah dan yang belum bisa menjadi wakil rakyat tetap legowo...dan berprestasi kembali untuk negeri ini
Sabtu, 07 Februari 2009
Derap Pemilu 2009 (1) : Bertebar Gambar..Akankah Bertebar Pesona
Sepanjang Jalan, dari kota sampai desa PP...nampak bertebarannya gambar para caleg akankan menebarkan pesona mereka. Ini tak lebih dari harapan, bagi sebagian kalangan yang merasa bingung 'mau milih siapa'..tentu tak ingin menjadi salah pilih. Tapi bagaimana bisa, ketika gambar para caleg tak lebih mengisyaratkat 'pilihkah aku' bukannya 'inilah aku'.
Ada pengalaman menarik berkisar kisah seorang caleg yang sangat saya kenal secara pribadi, dalam kesempatan jemput anak disekolah bertemulah dengan sang caleg yang kebetulan anaknya sekelas dengan anak saya. Beliau kelihatan capek, saya terus menyapa.."hai, apa kabar..sepertinya kamu capek banget", kemudian jawabnya.."ah gak koq, lagi bangun tidur..habis gak ada kerjaan"....gedubrak,untuk mengalihkan kekagetan saya lantas saya tanyakan sesuatu terkait pencapaian penurunan angka pengangguran kota Jogja...apa kemudian jawabnya..sungguh mengagetkan saya, "..wah gak ngerti mbak, aku gak ngurusi soal gituan..", yah..bertambahlah kekagetan saya.
Saya mungkin yang kurang ngerti caleg itu apa, tapi sejauh pemahaman saya tentunya caleg harus peduli dan mengerti masalah disekitarnya. Apalah daya, jika masalah yang dihadapi daerah seolah bukan urusan beliau, dan maaf..beliau memang kaya raya tapi itu saja tak cukup kiranya menjadi wakil rakyat.
Sungguh betapa pesona yang terlupa untuk ditebarkan bukannya gambar yang besar dan bagus, namun lebih indah jika keterpampangan beliau disertai dengan kecemerlangan memahami masalah disekitarnya dengan kecerdasan yang mampu diandalkan.
Mungkinkah?...
Ada pengalaman menarik berkisar kisah seorang caleg yang sangat saya kenal secara pribadi, dalam kesempatan jemput anak disekolah bertemulah dengan sang caleg yang kebetulan anaknya sekelas dengan anak saya. Beliau kelihatan capek, saya terus menyapa.."hai, apa kabar..sepertinya kamu capek banget", kemudian jawabnya.."ah gak koq, lagi bangun tidur..habis gak ada kerjaan"....gedubrak,untuk mengalihkan kekagetan saya lantas saya tanyakan sesuatu terkait pencapaian penurunan angka pengangguran kota Jogja...apa kemudian jawabnya..sungguh mengagetkan saya, "..wah gak ngerti mbak, aku gak ngurusi soal gituan..", yah..bertambahlah kekagetan saya.
Saya mungkin yang kurang ngerti caleg itu apa, tapi sejauh pemahaman saya tentunya caleg harus peduli dan mengerti masalah disekitarnya. Apalah daya, jika masalah yang dihadapi daerah seolah bukan urusan beliau, dan maaf..beliau memang kaya raya tapi itu saja tak cukup kiranya menjadi wakil rakyat.
Sungguh betapa pesona yang terlupa untuk ditebarkan bukannya gambar yang besar dan bagus, namun lebih indah jika keterpampangan beliau disertai dengan kecemerlangan memahami masalah disekitarnya dengan kecerdasan yang mampu diandalkan.
Mungkinkah?...
Rabu, 26 November 2008
Pasar Furniture Indonesia di Afrika Selatan
Afrika Selatan, adalah negara berpenduduk sekitar 60 juta jiwa dan pendapatan per kapita lebih dari US$ 13,000 sebagai indikasi keberhasilan reformasi dibidang perekonomiannya, merupakan salah satu negara utama dan potensial menjadi pasar ekspor di Benua Afrika bagian Selatan.
Afrika Selatan memiliki industri furniture domestik yang memproduksi furniture untuk rumah tangga, kantor dan pendidikan. Sekitar 1,500 industri furniture nasional Afrika Selatan telah bermain diindustri furniture baik untuk konsumsi domestik maupun diekspor, dengan tingkat konsumsi kayu antara 250,000 – 300,000 m3 per tahunnya.
Pada umumnya produksi furniture Afrika Selatan adalah pabrikan (knock-down furniture), dengan proses kombinasi laminasi dan veneer untuk menghasilkan mebel yang mudah dipasarkan dan mudah didaur ulang. Kendala dibidang industri furniture domestik adalah masih terbatasnya industri furniture yang berorientasi ukiran/antik/Eropah yang cukup diminati oleh konsumen kelas atas dan menengah (87%) dan biasanya mereka memesan dari importir besar atau showroom dengan harga yang cukup tinggi. Selain itu, mutu yang dihasilkan oleh industri furniture Afrika Selatan masih terbatas. Untuk memproteksi industri furniture domestik dari produk impor, Afrika Selatan mengenakan pajak impor rata-rata 25%, kecuali dari kelompok negara SADC (Southern African Development Community) yang tidak dikenakan pajak impor (0%).
Data statistik menunjukkan bahwa impor Afrika Selatan untuk furniture masih terbatas dan baru mencapai US$ 0,5 milyar untuk mebel HS 9401 (seats (o/t dentist & barber’s chairs, etc, & part thereof), HS 9402 (medical, surgical, dental mebel) dan HS 9403 (other mebel & parts, thereof).
Eksportir utama untuk pasar furniture ke Afrika Selatan dari sesama Asia adalah China, Thailand, Singapura dan Malaysia, sedangkan Indonesia cukup jauh tertinggal.
Masih terbuka peluang untuk memasuki pasar furniture Afrika Selatan khususnya untuk mebel ukiran/Eropa yang cukup digemari oleh kalangan atas dan menengah, selain sistem pembayaran yang cukup lancar. Kendala yang harus dihadapi adalah bea masuk yang cukup tinggi dan biaya transportasi.
Upaya dan strategi terobosan pasar furniture Afrika Selatan memang harus dapat diraih, bisa melalui kerjasama pemasaran dengan industri furniture setempat, memanfaatkan keberadaan perwakilan Indonesia untuk mempromosikan furniture, berperan serta pada pameran internasional khusus furniture seperti Decorex, misi dagang, marketing mission, dan berperan dalam kerjasama bilateral kedua negara.
Dari data ekspor BPS, dapat diketahui bahwa terdapat 2 (dua) komoditi mebel HS 4 digit yang diekspor Indonesia untuk memasuki pasar Afrika Selatan, yang menduduki posisi ke-11 dan ke-14 dari total ekspor non migas Indonesia ke Afrika Selatan, masing adalah HS 9403 (furniture & parts) dengan nilai US$ 10,1 juta, pangsa 1.81%, dan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 26.35% per tahun selama kurun waktu 2003 – 2007. Sampai dengan Februari 2008 nilai ekspor untuk HS 9403 adalah US$ 1,5 juta atau meningkat 42.09% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk HS 9401 (seat & parts), nilai ekspornya tercatat US$ 8 juta, pangsa 1.44%, dan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 19.24% per tahun. Sampai dengan Februari 2008, ekspor HS 9401 ke Afrika Selatan tercatat US$ 1,5 juta atau naik 77.44% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Total daya serap pasar Afrika Selatan Afrika Selatan mencapai Rand 7 milyar per tahun, dengan konsentrasi daya serap terdapat di Johannesburg, Durban dan Cape Town. Tingkat pengecer terkonsentrasi pada 2 penyalur utama mebel di Afrika Selatan yaitu JD Group dan Relyant Group yang memiliki lebih dari 2,000 outlet dan toko di Afrika Selatan termasuk penjualan elektronik.
Saat ini terjadi booming dibidang pembangunan konstruksi hotel dan perumahan di Afrika Selatan, sehingga menyebabkan tingkat konsumsi mebel lokal dan impor meningkat mengikuti perkembangan pembangunan yang pesat.
Segmentasi konsumen furniture di Afrika Selatan dapat dibagi menjadi :
1) Konsumen utama
Konsumen moderat
Konsumen tradisional
2) Konsumen menengah
Konsumen menengah ke atas
Konsumen menengah ke bawah
3) Konsumen bawah
Adapun ciri-ciri tiap segmen konsumen dapat disampaikan sebagai berikut :
1) Konsumen utama
Menguasai 5 – 7% pangsa pasar mebel
Terdiri dari 3 – 5 juta konsumen
Kebanyakan adalah penduduk asli
Senang dengan merek terkenal
Harga tidak menjadi kendala, biasanya membayar tunai atau memakai kartu kredit
2) Konsumen menengah
Menguasai 80% pangsa pasar mebel
Terdiri dari 35 juta konsumen
Konsumen menengah ke bawah menyenangi mebel tradisional
Untuk konsumen menengah ke atas menyenangi produk yang moderat dengan harga yang sesuai
Sering menawar dan umumnya membayar dengan kartu kredit.
3) Konsumen bawah
Menguasasi 13 – 15% pangsa pasar mebel
Terdiri dari 8 juta konsumen
Sangat sensitif dengan harga
Secara ringkas, dapat dinyatakan bahwa dengan adanya segmentasi konsumen furniture Afrika Selatan, terdapat trend didalam pesanan mebel yang diinginkan sebagai berikut :
1) Konsumen Utama
Memesan dari showroom disain mebel utama
Memesan dari penjual terkemuka di Afrika Selatan seperti Wetherleys dan Pellerade
2) Konsumen Menengah
Konsumen menengah ke atas memesan dari penjual pengecer seperti Bradlows dan Morkels yang merupakan anak perusahaan dari JD Group, atau melalui Dial-a-Bed dan Furniture City (anak perusahaan Relyant Group)
Konsumen menengah ke bawah memesan dari Joshua Doore dan Russels (JD Group), atau dari Ellerines dan Town Talk (Relyant Group)
3) Konsumen bawah
Memesan dari pengecer kelas bawah
Memesan dari toko biasa
Harga furniture yang terjadi di tingkat konsumen Afrika Selatan berdasarkan penelitian dari Konsultan Mauritius adalah sebagai berikut :
1) Konsumen menengah atas
Konsumen menengah atas menghargai sekitar Rand 6,000 – Rand 10,000 (US$ 900 – US$ 1,500) untuk coffee table, sekitar Rand 6,000 (US$ 900) untuk kursi dengan lapisan kulit dan lebih dari Rand 30,000 (US$ 4,500) untuk lounge set.
Tingkat keuntungan penjual pada segmen konsumen menengah atas dapat mencapai 100%.
2) Konsumen menengah rata-rata
Tingkat harga ti konsumen menengah rata-rata untuk lounge mebel dengan mutu standar adalah antara Rand 8,000 (US$ 1,200) – Rand 20,000 (US$ 3,000) untuk lounge set.
Tingkat keuntungan penjual pada segmen konsumen rata-rata adalah 15 – 20%
3) Konsumen tingkat bawah
Harga ditingkat konsumen bawah untuk living room set adalah Rand 8,000 (US$ 1,200), dengan tingkat keuntungan penjual antara 15 – 20%
Prospek pasar furniture di Afrika Selatan dapat dilihat dari statistic ITC Comtrade, impor mebel Afrika Selatan pada tahun 2006 tercatat US$ 460,3 juta atau berperan hanya 0.6% dari total impor Afrika Selatan dari dunia. Selama kurun waktu 2002 – 2006, trend nilai impor furniture Afrika Selatan dari dunia meningkat rata-rata 39.32% per tahun, lebih besar dibandingkan dengan trend rata-rata total nilai impor Afrika Selatan dari dunia sebesar 27.21%. Hal ini menunjukkan bahwa pasar furniture Afrika Selatan cukup cerah dan potensial sebagai salah satu pasar sasaran furniture Indonesia di wilayah Afrika.
Yang perlu diperhatikan dan diantisipasi Indonesia adalah ketatnya persaingan untuk memasuki pasar furniture Afrika Selatan dengan pesaing dari sesama Asia (China) maupun dari ASEAN (Malaysia, Singapura, Vietnam, Philipina) yang berusaha keras menerobos pasar Afrika Selatan.
Afrika Selatan memiliki industri furniture domestik yang memproduksi furniture untuk rumah tangga, kantor dan pendidikan. Sekitar 1,500 industri furniture nasional Afrika Selatan telah bermain diindustri furniture baik untuk konsumsi domestik maupun diekspor, dengan tingkat konsumsi kayu antara 250,000 – 300,000 m3 per tahunnya.
Pada umumnya produksi furniture Afrika Selatan adalah pabrikan (knock-down furniture), dengan proses kombinasi laminasi dan veneer untuk menghasilkan mebel yang mudah dipasarkan dan mudah didaur ulang. Kendala dibidang industri furniture domestik adalah masih terbatasnya industri furniture yang berorientasi ukiran/antik/Eropah yang cukup diminati oleh konsumen kelas atas dan menengah (87%) dan biasanya mereka memesan dari importir besar atau showroom dengan harga yang cukup tinggi. Selain itu, mutu yang dihasilkan oleh industri furniture Afrika Selatan masih terbatas. Untuk memproteksi industri furniture domestik dari produk impor, Afrika Selatan mengenakan pajak impor rata-rata 25%, kecuali dari kelompok negara SADC (Southern African Development Community) yang tidak dikenakan pajak impor (0%).
Data statistik menunjukkan bahwa impor Afrika Selatan untuk furniture masih terbatas dan baru mencapai US$ 0,5 milyar untuk mebel HS 9401 (seats (o/t dentist & barber’s chairs, etc, & part thereof), HS 9402 (medical, surgical, dental mebel) dan HS 9403 (other mebel & parts, thereof).
Eksportir utama untuk pasar furniture ke Afrika Selatan dari sesama Asia adalah China, Thailand, Singapura dan Malaysia, sedangkan Indonesia cukup jauh tertinggal.
Masih terbuka peluang untuk memasuki pasar furniture Afrika Selatan khususnya untuk mebel ukiran/Eropa yang cukup digemari oleh kalangan atas dan menengah, selain sistem pembayaran yang cukup lancar. Kendala yang harus dihadapi adalah bea masuk yang cukup tinggi dan biaya transportasi.
Upaya dan strategi terobosan pasar furniture Afrika Selatan memang harus dapat diraih, bisa melalui kerjasama pemasaran dengan industri furniture setempat, memanfaatkan keberadaan perwakilan Indonesia untuk mempromosikan furniture, berperan serta pada pameran internasional khusus furniture seperti Decorex, misi dagang, marketing mission, dan berperan dalam kerjasama bilateral kedua negara.
Dari data ekspor BPS, dapat diketahui bahwa terdapat 2 (dua) komoditi mebel HS 4 digit yang diekspor Indonesia untuk memasuki pasar Afrika Selatan, yang menduduki posisi ke-11 dan ke-14 dari total ekspor non migas Indonesia ke Afrika Selatan, masing adalah HS 9403 (furniture & parts) dengan nilai US$ 10,1 juta, pangsa 1.81%, dan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 26.35% per tahun selama kurun waktu 2003 – 2007. Sampai dengan Februari 2008 nilai ekspor untuk HS 9403 adalah US$ 1,5 juta atau meningkat 42.09% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk HS 9401 (seat & parts), nilai ekspornya tercatat US$ 8 juta, pangsa 1.44%, dan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 19.24% per tahun. Sampai dengan Februari 2008, ekspor HS 9401 ke Afrika Selatan tercatat US$ 1,5 juta atau naik 77.44% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Total daya serap pasar Afrika Selatan Afrika Selatan mencapai Rand 7 milyar per tahun, dengan konsentrasi daya serap terdapat di Johannesburg, Durban dan Cape Town. Tingkat pengecer terkonsentrasi pada 2 penyalur utama mebel di Afrika Selatan yaitu JD Group dan Relyant Group yang memiliki lebih dari 2,000 outlet dan toko di Afrika Selatan termasuk penjualan elektronik.
Saat ini terjadi booming dibidang pembangunan konstruksi hotel dan perumahan di Afrika Selatan, sehingga menyebabkan tingkat konsumsi mebel lokal dan impor meningkat mengikuti perkembangan pembangunan yang pesat.
Segmentasi konsumen furniture di Afrika Selatan dapat dibagi menjadi :
1) Konsumen utama
Konsumen moderat
Konsumen tradisional
2) Konsumen menengah
Konsumen menengah ke atas
Konsumen menengah ke bawah
3) Konsumen bawah
Adapun ciri-ciri tiap segmen konsumen dapat disampaikan sebagai berikut :
1) Konsumen utama
Menguasai 5 – 7% pangsa pasar mebel
Terdiri dari 3 – 5 juta konsumen
Kebanyakan adalah penduduk asli
Senang dengan merek terkenal
Harga tidak menjadi kendala, biasanya membayar tunai atau memakai kartu kredit
2) Konsumen menengah
Menguasai 80% pangsa pasar mebel
Terdiri dari 35 juta konsumen
Konsumen menengah ke bawah menyenangi mebel tradisional
Untuk konsumen menengah ke atas menyenangi produk yang moderat dengan harga yang sesuai
Sering menawar dan umumnya membayar dengan kartu kredit.
3) Konsumen bawah
Menguasasi 13 – 15% pangsa pasar mebel
Terdiri dari 8 juta konsumen
Sangat sensitif dengan harga
Secara ringkas, dapat dinyatakan bahwa dengan adanya segmentasi konsumen furniture Afrika Selatan, terdapat trend didalam pesanan mebel yang diinginkan sebagai berikut :
1) Konsumen Utama
Memesan dari showroom disain mebel utama
Memesan dari penjual terkemuka di Afrika Selatan seperti Wetherleys dan Pellerade
2) Konsumen Menengah
Konsumen menengah ke atas memesan dari penjual pengecer seperti Bradlows dan Morkels yang merupakan anak perusahaan dari JD Group, atau melalui Dial-a-Bed dan Furniture City (anak perusahaan Relyant Group)
Konsumen menengah ke bawah memesan dari Joshua Doore dan Russels (JD Group), atau dari Ellerines dan Town Talk (Relyant Group)
3) Konsumen bawah
Memesan dari pengecer kelas bawah
Memesan dari toko biasa
Harga furniture yang terjadi di tingkat konsumen Afrika Selatan berdasarkan penelitian dari Konsultan Mauritius adalah sebagai berikut :
1) Konsumen menengah atas
Konsumen menengah atas menghargai sekitar Rand 6,000 – Rand 10,000 (US$ 900 – US$ 1,500) untuk coffee table, sekitar Rand 6,000 (US$ 900) untuk kursi dengan lapisan kulit dan lebih dari Rand 30,000 (US$ 4,500) untuk lounge set.
Tingkat keuntungan penjual pada segmen konsumen menengah atas dapat mencapai 100%.
2) Konsumen menengah rata-rata
Tingkat harga ti konsumen menengah rata-rata untuk lounge mebel dengan mutu standar adalah antara Rand 8,000 (US$ 1,200) – Rand 20,000 (US$ 3,000) untuk lounge set.
Tingkat keuntungan penjual pada segmen konsumen rata-rata adalah 15 – 20%
3) Konsumen tingkat bawah
Harga ditingkat konsumen bawah untuk living room set adalah Rand 8,000 (US$ 1,200), dengan tingkat keuntungan penjual antara 15 – 20%
Prospek pasar furniture di Afrika Selatan dapat dilihat dari statistic ITC Comtrade, impor mebel Afrika Selatan pada tahun 2006 tercatat US$ 460,3 juta atau berperan hanya 0.6% dari total impor Afrika Selatan dari dunia. Selama kurun waktu 2002 – 2006, trend nilai impor furniture Afrika Selatan dari dunia meningkat rata-rata 39.32% per tahun, lebih besar dibandingkan dengan trend rata-rata total nilai impor Afrika Selatan dari dunia sebesar 27.21%. Hal ini menunjukkan bahwa pasar furniture Afrika Selatan cukup cerah dan potensial sebagai salah satu pasar sasaran furniture Indonesia di wilayah Afrika.
Yang perlu diperhatikan dan diantisipasi Indonesia adalah ketatnya persaingan untuk memasuki pasar furniture Afrika Selatan dengan pesaing dari sesama Asia (China) maupun dari ASEAN (Malaysia, Singapura, Vietnam, Philipina) yang berusaha keras menerobos pasar Afrika Selatan.
Selasa, 25 November 2008
Pasar Furniture Indonesia di Jepang
Secara keseluruhan, Jepang adalah negara tujuan ekspor Indonesia kedua setelah Amerika Serikat. Untuk komoditas furniture, Jepang adalah pasar yang unik..walaupun masih banyak rumah yang beralas tatami dan tidur dengan futton namun perkembangan penggunaan mebel yang modern semakin meningkat dari waktu-kewaktu. Permintaan furniture di Jepang mempunyai prospek baik seiring dengan pembangunan rumah dan gedung baru, serta tren renovasi rumah yang lebih modern.
Impor mebel oleh Jepang berasal dari berbagai negara , tidak saja dari negara yang memproduksi mebel nama terkenal dan mahal, namun juga mebel dengan harga medium untuk pasar department stores menengah dan produk furniture dengan harga yang lebih murah lagi. Chain stores furniture telah melakukan kekuatan pemasaran untuk menjual kepada konsumen Jepang berbagai jenis produk impor yang tidak memiliki merk terkenal.
Bila dibandingkan impor furniture Jepang dari dunia dan Indonesia pada tahun 2007 pangsa pasar produk furniture Indonesia di Jepang adalah 6,58%, dengan demikian masih memiliki peluang yang cukup besar untuk meningkatkan ekspornya ke Jepang.
Pada intinya impor furniture di Jepang tidak diatur. Namun, furniture yang menggunakan bahan dari kulit binatang buas atau bekko diawasi impornya di bawah peraturan Washington Convention.
Di Jepang, khusus furniture yang terbuat dari bahan kayu umumnya diklasifikasikan dalam 2 (dua) kelas, yaitu :
a. Furniture untuk rumah tangga seperti lemari (meja rias, lemari & laci, meja rias model Jepang, dll); furniture berkaki (lemari makan, rak-rak di ruang keluarga, buffet, rak buku, lemari buku).
b. Furniture untuk industri yaitu dengan permintaan (untuk laboratorium, sekolah, hotel, restoran, kedai kopi) yang biasanya dijual oleh industri atau pabrik furniture secara langsung kepada pemakai, pengembang atau disainer interior.
Selain furniture dengan bahan kayu, bahan dari rotan dan marmer serta plastik atau kombinasi dengan penutup dari kulit atau dilapis dengan logam juga banyak diminati konsumen atau disainer interior.
Karakteristik konsumen furniture di Jepang adalah mereka lebih memilih produk furniture yang bagus dalam sisi desain interior, praktis (tidak memerlukan banyak tempat), serta lebih multiguna. Dalam hal desain, konsumen lebih mengutamakan warna khususnya putih dan abu-abu. Pembelian furniture oleh konsumen Jepang dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok utama, yaitu: perangkat ruang tamu (sofa), perangkat ruang makan, dan tempat tidur. Hampir sebagian besar rumah di Jepang berukuran luas yang kecil, karenanya membutuhkan furniture yang praktis dan sederhana yang tidak butuh banyak tempat dan dapat dirangkai sendiri oleh konsumen.
Klasifikasi produksi furniture di Jepang berdasarkan Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang, dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu: (a). lemari, (b). rak, (c). meja, (d). kursi, (e). bangku, (f). tempat tidur, (g). furniture lainnya. Untuk lemari, rak, meja dan kursi mengalami penurunan baik pendapatan maupun volume penjualan, sedang bangku, tempat tidur & furniture lain mengalami peningkatan pendapatan dan volume penjualan.
Profil Pengguna Produk Furniture Impor di Jepang:
a Perumahan atau Apartemen
- Pasangan suami-istri, lebih fokus pada furniture ruang tamu dan ruang makan;
- Single, lebih fokus pada furniture tempat tidur dan sofa.
b. Gedung Kantor, Gedung Pertemuan dan Gedung Serba Guna
- Gedung Kantor lebih mengutamakan furniture berwarna cerah dengan penuh gaya;
- Gedung Pertemuan lebih mengutamakan kursi dan furniture lain yang terbuat dari kayu dengan warna cerah.
c. Taman atau Tempat Rekreasi
Furniture yang dipakai terbuat dari plastik penuh warna, ada juga alat permainan atletik dari kayu dan populer dikalangan anak-anak.
Bila dibandingkan impor furniture Jepang dari dunia dan Indonesia pada tahun 2007 pangsa pasar produk furniture Indonesia di Jepang adalah 6,58%, dengan demikian masih memiliki peluang yang cukup besar untuk meningkatkan ekspornya ke Jepang.
Pesaing Indonesia dengan sesama negara ASEAN, Indonesia menempati urutan ke-3 dengan nilai US$ 155,94 juta (2007), sedangkan urutan pertama adalah Vietnam (US$ 214,38 juta), kedua Thailand (US$ 173,92 juta), keempat Malaysia (US$123,95 juta) dan kelima Philipina (US$ 38,91 juta)
Berikut ini adalah beberapa petunjuk memasuki pasar Jepang untuk produk furniture yaitu :
1. Eksportir perlu memperoleh informasi atau melakukan survey pasar dari negara yang akan dituju. Informasi hasil market survey dapat diperoleh dari BPEN-Departemen Perdagangan atau dari Atase Perdagangan RI di Tokyo, Jepang , Kantor Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) di Osaka, Jepang atau kantor Japan External Trade organization (JETRO) di Jakarta.
2. Berdasarkan market survey tersebut, eksportir dapat mengetahui lebih mendalam mengenai produk furniture di Jepang dan menyeleksi produk mereka sesuai dengan standard dan kriteria produk yang memang diminta oleh pasar Jepang. Bila belum sepenuhnya sesuai, perlu dilakukan adaptasi produk.
3. Menghitung biaya produksi dan pemasaran sehingga diperoleh harga yang berdaya saing yang akan ditawarkan kepada calon pembeli atau mitra dagang di Jepang.
4. Berkoordinasi dengan BPEN untuk memperoleh inquiry yang kerap datang dari pembeli Jepang, ataupun mendapatkan calon mitra melalui promosi online JETRO yaitu Trade Tie-up Promotion Program (TIPP).
5. Furniture yang menggunakan bahan baku kayu alam dan rotan memiliki sifat memuai dan menyusut tergantung kelembaban udara, juga seringkali mudah terkena serangan jamur dan serangga. Untuk menghindarkan hal ini, produk furniture harus dikeringkan dengan sempurna mencapai kadar kelembaban yang dibutuhkan . Furniture metal harus menggunakan anti-rust agent.
------Eksportir perlu memperlihatkan produknya langsung kepada konsumen, oleh karena itu langkah paling efektif adalah dengan ikut berpartisipasi dalam pameran dagang bertaraf internasional di Jepang.
6. Eksportir perlu secara pro aktif berpartisipasi pada tiap kegiatan promosi furniture di Jepang mengingat partisipasi pada pameran merupakan kegiatan promosi yang sangat efektif karena memberikan berbagai manfaat.
7. Pembeli Jepang sangat berhati-hati dalam melakukan negosiasi oleh karena itu biasanya proses negosiasi dengan Jepang memakan waktu yang sangat lama, namun demikian, sekali mereka melakukan keputusan untuk membeli produk furniture, mereka akan menjadi konsumen setia.
Impor mebel oleh Jepang berasal dari berbagai negara , tidak saja dari negara yang memproduksi mebel nama terkenal dan mahal, namun juga mebel dengan harga medium untuk pasar department stores menengah dan produk furniture dengan harga yang lebih murah lagi. Chain stores furniture telah melakukan kekuatan pemasaran untuk menjual kepada konsumen Jepang berbagai jenis produk impor yang tidak memiliki merk terkenal.
Bila dibandingkan impor furniture Jepang dari dunia dan Indonesia pada tahun 2007 pangsa pasar produk furniture Indonesia di Jepang adalah 6,58%, dengan demikian masih memiliki peluang yang cukup besar untuk meningkatkan ekspornya ke Jepang.
Pada intinya impor furniture di Jepang tidak diatur. Namun, furniture yang menggunakan bahan dari kulit binatang buas atau bekko diawasi impornya di bawah peraturan Washington Convention.
Di Jepang, khusus furniture yang terbuat dari bahan kayu umumnya diklasifikasikan dalam 2 (dua) kelas, yaitu :
a. Furniture untuk rumah tangga seperti lemari (meja rias, lemari & laci, meja rias model Jepang, dll); furniture berkaki (lemari makan, rak-rak di ruang keluarga, buffet, rak buku, lemari buku).
b. Furniture untuk industri yaitu dengan permintaan (untuk laboratorium, sekolah, hotel, restoran, kedai kopi) yang biasanya dijual oleh industri atau pabrik furniture secara langsung kepada pemakai, pengembang atau disainer interior.
Selain furniture dengan bahan kayu, bahan dari rotan dan marmer serta plastik atau kombinasi dengan penutup dari kulit atau dilapis dengan logam juga banyak diminati konsumen atau disainer interior.
Karakteristik konsumen furniture di Jepang adalah mereka lebih memilih produk furniture yang bagus dalam sisi desain interior, praktis (tidak memerlukan banyak tempat), serta lebih multiguna. Dalam hal desain, konsumen lebih mengutamakan warna khususnya putih dan abu-abu. Pembelian furniture oleh konsumen Jepang dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok utama, yaitu: perangkat ruang tamu (sofa), perangkat ruang makan, dan tempat tidur. Hampir sebagian besar rumah di Jepang berukuran luas yang kecil, karenanya membutuhkan furniture yang praktis dan sederhana yang tidak butuh banyak tempat dan dapat dirangkai sendiri oleh konsumen.
Klasifikasi produksi furniture di Jepang berdasarkan Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang, dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu: (a). lemari, (b). rak, (c). meja, (d). kursi, (e). bangku, (f). tempat tidur, (g). furniture lainnya. Untuk lemari, rak, meja dan kursi mengalami penurunan baik pendapatan maupun volume penjualan, sedang bangku, tempat tidur & furniture lain mengalami peningkatan pendapatan dan volume penjualan.
Profil Pengguna Produk Furniture Impor di Jepang:
a Perumahan atau Apartemen
- Pasangan suami-istri, lebih fokus pada furniture ruang tamu dan ruang makan;
- Single, lebih fokus pada furniture tempat tidur dan sofa.
b. Gedung Kantor, Gedung Pertemuan dan Gedung Serba Guna
- Gedung Kantor lebih mengutamakan furniture berwarna cerah dengan penuh gaya;
- Gedung Pertemuan lebih mengutamakan kursi dan furniture lain yang terbuat dari kayu dengan warna cerah.
c. Taman atau Tempat Rekreasi
Furniture yang dipakai terbuat dari plastik penuh warna, ada juga alat permainan atletik dari kayu dan populer dikalangan anak-anak.
Bila dibandingkan impor furniture Jepang dari dunia dan Indonesia pada tahun 2007 pangsa pasar produk furniture Indonesia di Jepang adalah 6,58%, dengan demikian masih memiliki peluang yang cukup besar untuk meningkatkan ekspornya ke Jepang.
Pesaing Indonesia dengan sesama negara ASEAN, Indonesia menempati urutan ke-3 dengan nilai US$ 155,94 juta (2007), sedangkan urutan pertama adalah Vietnam (US$ 214,38 juta), kedua Thailand (US$ 173,92 juta), keempat Malaysia (US$123,95 juta) dan kelima Philipina (US$ 38,91 juta)
Berikut ini adalah beberapa petunjuk memasuki pasar Jepang untuk produk furniture yaitu :
1. Eksportir perlu memperoleh informasi atau melakukan survey pasar dari negara yang akan dituju. Informasi hasil market survey dapat diperoleh dari BPEN-Departemen Perdagangan atau dari Atase Perdagangan RI di Tokyo, Jepang , Kantor Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) di Osaka, Jepang atau kantor Japan External Trade organization (JETRO) di Jakarta.
2. Berdasarkan market survey tersebut, eksportir dapat mengetahui lebih mendalam mengenai produk furniture di Jepang dan menyeleksi produk mereka sesuai dengan standard dan kriteria produk yang memang diminta oleh pasar Jepang. Bila belum sepenuhnya sesuai, perlu dilakukan adaptasi produk.
3. Menghitung biaya produksi dan pemasaran sehingga diperoleh harga yang berdaya saing yang akan ditawarkan kepada calon pembeli atau mitra dagang di Jepang.
4. Berkoordinasi dengan BPEN untuk memperoleh inquiry yang kerap datang dari pembeli Jepang, ataupun mendapatkan calon mitra melalui promosi online JETRO yaitu Trade Tie-up Promotion Program (TIPP).
5. Furniture yang menggunakan bahan baku kayu alam dan rotan memiliki sifat memuai dan menyusut tergantung kelembaban udara, juga seringkali mudah terkena serangan jamur dan serangga. Untuk menghindarkan hal ini, produk furniture harus dikeringkan dengan sempurna mencapai kadar kelembaban yang dibutuhkan . Furniture metal harus menggunakan anti-rust agent.
------Eksportir perlu memperlihatkan produknya langsung kepada konsumen, oleh karena itu langkah paling efektif adalah dengan ikut berpartisipasi dalam pameran dagang bertaraf internasional di Jepang.
6. Eksportir perlu secara pro aktif berpartisipasi pada tiap kegiatan promosi furniture di Jepang mengingat partisipasi pada pameran merupakan kegiatan promosi yang sangat efektif karena memberikan berbagai manfaat.
7. Pembeli Jepang sangat berhati-hati dalam melakukan negosiasi oleh karena itu biasanya proses negosiasi dengan Jepang memakan waktu yang sangat lama, namun demikian, sekali mereka melakukan keputusan untuk membeli produk furniture, mereka akan menjadi konsumen setia.
Sabtu, 22 November 2008
Tinjauan Likuiditas Perbankan
Sebagai lanjutan dari tulisan saya yang bertajuk 'Mengoreksi Rupiah Yang Terus Terkoreksi', tulisannya akan lebih 'melihat' sisi likuiditas perbankan. Semenjak Bank Indonesia melonggarkan likuiditas dengan menetapkan perbankan cukup memenuhi giro wajib minimum yang sebesar lima persen dari dana pihak ketiga selama setahun ke depan harapannya adalah untuk mendorong bank meningkatkan fungsi intermediasinya.
Bank Indonesia telah melakukan revisi Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 10/19/2008 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum yang baru seminggu diterbitkan yakni pada tanggal 14 Oktober 2008.
PBI No 10/19/2008 pun sebenarnya diterbitkan dengan tujuan melonggarkan likuiditas baik rupiah maupun valas. PBI tersebut menurunkan giro wajib minimum (GWM) atau simpanan giro bank di BI dari rata-rata 9 persen sebelumnya menjadi 7,5 persen, yang terdiri atas 5 persen GWM utama (statuary reserve) dan 2,5 persen GWM sekunder (secondary reserve).
Ketentuan GWM tersebut juga disederhanakan dengan tidak lagi mengaitkannya dengan rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (LDR).
Ternyata, kamis 20 Nopember lalu BI melonggarakan kembali menurunkan ketentuan GWM dengan memperbolehkan bank hanya menyetor GWM utama yang sebesar 5 persen dari dana pihak ketiga (DPK), dan pemenuhan GWM sekunder yang sebesar 2,5 persen ditangguhkan sampai setahun ke depan , atau dipenuhi selambat-lambatnya 24 Oktober 2009.
Penyempuranaan itu sepertinya bertujuan memberikan fleksibilitas bagi bank dalam pengelolaan likuiditasnya dan perbankan berpotensi menambah likuiditas di pasar sebesar Rp 35 triliun. Dari penurunan GWM sebelumnya, ada tambahan likuiditas yang bisa dimanfaatkan perbankan sebesar Rp 20 triliun.
Kiranya, ini adalah langkah positif BI, karena ada banyak keberatan perbankan dalam memenuhi GWM yang 7,5 persen sebelumnya...yang bisa jadi karena Loan to Deposit Ratio (LDR) yang tinggi dari bank-bank yang mengajikan keberatan.
Lebih daripada itu pasar masih mencanagkan likuiditas yang ketat, bagaimana tidak..karena nyatanya masih ada penawaran suku bunga deposito yang tinggi untuk korporasi maupun nasabah yang punya simpanan diatas Rp 1 miliar dan kredit yang masih enggan dikucurkan.
Lantas apa saja yang menyebabkan likuiditas pasar yang masih saja ketat? Ada beberapa hal yang kiranya jadi penyebab, diantaranya (1)buy back saham BUMN...ada kecondongan bagi BUMN untuk menahan dana sewaktu-waktu. Karena adanya kekhawatiran seandainya harga saham jatuh dana yang ditahan segera dapat dipakai ; (2)perbankan Indonesia menghadapi kesulitan mendapatkan dana dari pasar regional dan internasional sebagai dampak dari sulitnya likuiditas US$...hal itu terjadi bisa jadi karena perbankan Indonesia yang masih mengandalkan pinjaman bank luar negeri menjadi sumber dana ;(3) meningkatnya risiko di Indonesia hingga kreditor ada reaksi 'penundaan' pinjaman untuk perbankan dan perusahaan Indonesia, kreditor dan pemilik dana yang akan berinvestasi sepertinya juga harus mendapat jaminan 'penuh' atas pinjaman antar bank...dan/atau ada jaminan penuh atas simpanan masyarakat di sektor perbankan...sebagai tindakan berjaga-jaga karena persaingan pasar keuangan regional seperti Hongkong dan Singapura.
Bank Indonesia telah melakukan revisi Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 10/19/2008 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum yang baru seminggu diterbitkan yakni pada tanggal 14 Oktober 2008.
PBI No 10/19/2008 pun sebenarnya diterbitkan dengan tujuan melonggarkan likuiditas baik rupiah maupun valas. PBI tersebut menurunkan giro wajib minimum (GWM) atau simpanan giro bank di BI dari rata-rata 9 persen sebelumnya menjadi 7,5 persen, yang terdiri atas 5 persen GWM utama (statuary reserve) dan 2,5 persen GWM sekunder (secondary reserve).
Ketentuan GWM tersebut juga disederhanakan dengan tidak lagi mengaitkannya dengan rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (LDR).
Ternyata, kamis 20 Nopember lalu BI melonggarakan kembali menurunkan ketentuan GWM dengan memperbolehkan bank hanya menyetor GWM utama yang sebesar 5 persen dari dana pihak ketiga (DPK), dan pemenuhan GWM sekunder yang sebesar 2,5 persen ditangguhkan sampai setahun ke depan , atau dipenuhi selambat-lambatnya 24 Oktober 2009.
Penyempuranaan itu sepertinya bertujuan memberikan fleksibilitas bagi bank dalam pengelolaan likuiditasnya dan perbankan berpotensi menambah likuiditas di pasar sebesar Rp 35 triliun. Dari penurunan GWM sebelumnya, ada tambahan likuiditas yang bisa dimanfaatkan perbankan sebesar Rp 20 triliun.
Kiranya, ini adalah langkah positif BI, karena ada banyak keberatan perbankan dalam memenuhi GWM yang 7,5 persen sebelumnya...yang bisa jadi karena Loan to Deposit Ratio (LDR) yang tinggi dari bank-bank yang mengajikan keberatan.
Lebih daripada itu pasar masih mencanagkan likuiditas yang ketat, bagaimana tidak..karena nyatanya masih ada penawaran suku bunga deposito yang tinggi untuk korporasi maupun nasabah yang punya simpanan diatas Rp 1 miliar dan kredit yang masih enggan dikucurkan.
Lantas apa saja yang menyebabkan likuiditas pasar yang masih saja ketat? Ada beberapa hal yang kiranya jadi penyebab, diantaranya (1)buy back saham BUMN...ada kecondongan bagi BUMN untuk menahan dana sewaktu-waktu. Karena adanya kekhawatiran seandainya harga saham jatuh dana yang ditahan segera dapat dipakai ; (2)perbankan Indonesia menghadapi kesulitan mendapatkan dana dari pasar regional dan internasional sebagai dampak dari sulitnya likuiditas US$...hal itu terjadi bisa jadi karena perbankan Indonesia yang masih mengandalkan pinjaman bank luar negeri menjadi sumber dana ;(3) meningkatnya risiko di Indonesia hingga kreditor ada reaksi 'penundaan' pinjaman untuk perbankan dan perusahaan Indonesia, kreditor dan pemilik dana yang akan berinvestasi sepertinya juga harus mendapat jaminan 'penuh' atas pinjaman antar bank...dan/atau ada jaminan penuh atas simpanan masyarakat di sektor perbankan...sebagai tindakan berjaga-jaga karena persaingan pasar keuangan regional seperti Hongkong dan Singapura.
Jumat, 21 November 2008
Mengoreksi Rupiah Yang Terus Terkoreksi
Jika terkabar himbauan bahwa ekspor hendaknya dibayar dengan rupiah,maka pasti ada 'apa-apanya'. Seperti pada tulisan saya sebelumnya, bahwa rupiah ternyata bertahan tak turun dari Rp11.615-12.115 per US$, besar kemungkinan karena perilaku para pemilik modal justru meningkatkan perburuan dolar untuk menjaga kemungkinan terburuk dari nilai rupiah dan sistem penjaminan yang tidak penuh (blanket guarantee).
Lantas bagaimana dengan himbauan Bank Indonesia agar masyarakat melepas dollar, padahal baik pasar domestik maupun luar negeri sedang sepi dari dollar? Walau alasannya sebenarnya Bank Indonesia menginginkan kestabilan nilai tukar, tapi waktu memang tak tepat. Sekarang saatnya para penyimpan dollar mulai melakukan profit taking karena rupiah yang terus melemah. Namun, kesan lainnya tertangkap..bahwa Bank Indonesia mulai 'gerah'karena valas yang menipis.
Berbagai kemungkinan masih bisa terjadi, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar disebabkan karena banjirnya likuiditas rupiah di pasaran, setelah BI menurunkan giro wajib minimum menjadi 7,5% dari 9,08% untuk semua bank. Ada kelebihan likuiditas rupiah pada saat penurunan GWM tersebut. Disisi lain menjelang akhir tahun banyak perusahaan yang akan tutup buku, banyak perusahaan yang ingin membayar utang kembali dalam dollar yang jatuh tempo. Disamping itu juga, menjelang akhir tahun banyak permintaan mata uang dolar untuk membeli barang-barang impor.
Jadi saya memperkirakan sampai dengan akhir tahun kurs US$ tak beranjak jauh dari Rp12.000-an hingga pada awal Januari, rupiah akan menguat lagi, karena permintaan akan mata uang dolar untuk membayar beban-beban diakhir tahun sudah berkurang. Walau berada di kisaran yang tak pasti, tapi perkiraan ini adalah segelintir informasi intuitif yang mungkin berguna bagi pelaku bisnis...Semoga
Lantas bagaimana dengan himbauan Bank Indonesia agar masyarakat melepas dollar, padahal baik pasar domestik maupun luar negeri sedang sepi dari dollar? Walau alasannya sebenarnya Bank Indonesia menginginkan kestabilan nilai tukar, tapi waktu memang tak tepat. Sekarang saatnya para penyimpan dollar mulai melakukan profit taking karena rupiah yang terus melemah. Namun, kesan lainnya tertangkap..bahwa Bank Indonesia mulai 'gerah'karena valas yang menipis.
Berbagai kemungkinan masih bisa terjadi, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar disebabkan karena banjirnya likuiditas rupiah di pasaran, setelah BI menurunkan giro wajib minimum menjadi 7,5% dari 9,08% untuk semua bank. Ada kelebihan likuiditas rupiah pada saat penurunan GWM tersebut. Disisi lain menjelang akhir tahun banyak perusahaan yang akan tutup buku, banyak perusahaan yang ingin membayar utang kembali dalam dollar yang jatuh tempo. Disamping itu juga, menjelang akhir tahun banyak permintaan mata uang dolar untuk membeli barang-barang impor.
Jadi saya memperkirakan sampai dengan akhir tahun kurs US$ tak beranjak jauh dari Rp12.000-an hingga pada awal Januari, rupiah akan menguat lagi, karena permintaan akan mata uang dolar untuk membayar beban-beban diakhir tahun sudah berkurang. Walau berada di kisaran yang tak pasti, tapi perkiraan ini adalah segelintir informasi intuitif yang mungkin berguna bagi pelaku bisnis...Semoga
Langganan:
Postingan (Atom)