Dollar menguat dari titik terendah atas Euro setelah Menteri Keuangan AS Henry Poulson memperkirakan bahwa para legeslatif akan mengetok palu sebuah peraturan minggu ini sehinga memberikan kepercayaan pada Fannie Mae dan Freddie Mac.
Kurs US$-IDR saat ini yang berada dalam kisaran Rp 11.615-12.115 berawal dari 'nilai kepercayaan' yang meningkat tajam terhadap US$. Di US sendiri Nilai tukar Dolar menguat dan lewat dari ambang teknis di $1.59. Bagaimana tidak, setelah dialansir ternyata Gubernur Bank Sentral di Philadelphia Charles Plosser.. juga memberikan pernyataan bahwa saat ini untuk menekan inflasi adalah sesegera mungkin menaikkan suku bunga dan bukannya menundanya.
Saat ini terlihat merupakan suatu titik yang kritikal, dimana sektor keuangan diperkirakan akan membaik dan Dollar AS akan meningkat (terus??).
Dollar AS naik 0.3 percent ke $1.5870 per euro pada pertengahan perdagangan malam ini dari posisi $1.5922 kemarin. Terkoreksi $1.6038 dari tanggal 15 Juli, yang merupakan harga terendah semenjak Euro diperkenalkan tahun 1999. Dollar menguat 0.3 percent ke harga 106.73 yen, dari 106.45. Yen berubah sedikit dari 169.39 atas euro, dibandingkan 169.48, setelah terkoreksi pada 169.91 kemarin.
Dollar menguat ditengah krisis AS... kerennya repatriasi, yaitu penarikan dana milik investor negara tertentu dari seluruh dunia untuk dikembalikan ke asalnya. Biasanya repatriasi dilakukan untuk investasi jangka pendek (hot money).
Saat ini repatriasi terjadi pada dolar AS. Repatriasi dipastikan bertambah, akibat menguatnya euforia Pemilu AS, dan penantian terhadap langkah Presiden terpilih Barrack Obama yang benar-benar memberi penyegaran . Sejumlah ekonom menilai investor
melihat ada harapan bahwa Presiden AS terpilih akan memberi perubahan bagi ekonomi AS dan sangat dinantikan dampak positifnya bagi negara-negara lain, dan adanya keinginan melakukan konsolidasi internal semakin kuat.
Bisa jadi, meskipun negara itu krisis, mata uangnya tetap menguat, karena permintaan terhadap nilai tukar itu terus meningkat.
Dollar yang menguat di tengah menurunya nilai aset, harga minyak dan juga komoditas, maka seharusnya Bank Indonesia berusaha keras mempertahankan nilai tukar rupiah dengan menetapkan kebijakan BI rate pada level tinggi. Awal November 2008, BI mempertahankan suku bunga pada posisi 9,50%, namun tidak dapat menahan depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Rupiah melemah di posisi Rp11.000/US$.
Untuk menstabilkan pasar uang dalam negeri, akibat tingginya permintaan terhadap dollar AS, cadangan devisa terkuras dari US$50,58 miliar selama kurun waktu satu bulan, dari US$57,11 miliar pada awal Oktober 2008.
A. Tony Prasetiantono, Kepala Ekonom PT BNI Tbk., mengatakan sejak bom kredit macet kepemilikan rumah , sebenarnya repatriasi sudah mulai dilakukan, namun tidak begitu
gencar karena investor AS masih menunggu good news, dari kebijakan pemerintah maupun kebaikan pasar. Namun ternyata krisis semakin dalam, International Monetary Fund dalam laporannya menyebutkan kerugian pinjaman di AS, dan penurunan nilai dari aset-aset penjaminan akibat krisis saat ini akan mencapai sekitar US$1,4 triliun. Untuk mempertahankan pertumbuhan sektor kredit, meskipun dalam posisi rendah, secara
global perbankan perlu modal sekitar US$675 miliar, untuk beberapa tahun mendatang.
Stephen S. Roach, Chairman Morgan Stanley Asia, di Jakarta, pekan ini, mengatakan pihaknya menilai repatriasi akan bertahan sambil investor menantikan kebijakan pemerintahan baru. Setelah itu, dollar AS akan turun kembali, karena investor kembali menyebarkan modalnya ke seluruh dunia. Dia memperkirakan pada awal 2009, dollar AS akan kembali melemah.
Bambang Prijambodo, Direktur Perencanaan Makro Kementrian PPN/Kepala Bappenas, menilai kondisi ini sangat wajar. Kekacauan ekonomi AS meningkatkan keinginan investor negara itu untuk segera berkonsolidasi, guna mengukur seberapa besar dampak keuangan terhadap krisis, sebut saja Citigroup, Well Fargo, JPMorgan Chase, Goldman Sachs, First Niaga dan puluhan perusahaan internasional lain.
Ada indikasi, kepulangan dollar yang mendorong nilai tukarnya merangkak keatas terus dan menurunkan nilai uang dalam negeri maka akan menurunkan harga komoditas dalam negeri...karena dalam takaran normal apabila harga komoditas dalam negeri turun..permintaan ekspor akan naik.
Jika sebelum krisis, sekitar Juni 2008 Pemerintah AS mengeluarkan global bond senilai US$2,1 miliar dengan penawarannya yang sebesar US$6 miliar..maka saat ini tentu sulit mengharapkan likuidasi yang sama besarnya....dan bagi negara sedang berkembang termasuk Indonesia harus kembali menggandeng Bank Dunia, meningkatkan kerjasama bilateral dan multilateral..dan defisit anggaran Indonesia harus semakin ketat..bisa jadi defisit RAPBN 2008 harus di 'press' dari 1,7% menjadi 1%
Karena kondisi likuiditas yang semakin bersaing, akan mendorong negara-negara untuk memberikan penjaminan simpanan hingga 100%. AS telah melakukan hal itu, dari jaminan simpanan sebesar US%100.000 menjadi US$250.000..lantas mengapa beberapa negara berkembang sudah mengikuti langkah AS..yaa, karena kalau tidak bisa capital outflow-lah. Dari sisi neraca pembayaran, bisa dilakukan dengan pengurangan impor. Untuk perusahan-perusahaan yang sudah go public bisa jadi sulit jika hanya mengandalkan kebijakan yang normal-normal saja...karena adanya fenomena turun drastisnya indeks saham. Masalah yang dihadapi perbankan Indonesia ada pada kebutuhan likuiditas yang sangat amat mendesak karena semakin ketatnya US$..karena pinjaman US$ lebih besar dari US$ yang tersedia.
Selasa, 18 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar