Senin, 27 Oktober 2008

DAMPAK MAKRO KRISIS FINANSIAL 2008 (Tulisan 2)

Dampak krisis finansial bagi neraca pembayaran akan menunjukkan adanya perubahan dari surplus transaksi berjalan menjadi defisit transaksi berjalan. Hal ini terjadi karena investasi yang meningkat dimana sebagian dibiayai dengan impor barang modal. Disisi lain, pertumbuhan ekspor yang melambat dan terjadi penurunan neraca migas sebagai akibat dari stagnasi pada produksi migas dan konsumsi migas yang meningkat tajam.

Dalam situasi yang "ideal", defisit transaksi berjalan mampu dibiayai oleh capital inflow (aliran modal masuk) baik berupa portfolio investment maupun foreign direct investment/FDI. Tetapi yang dihadapi Indonesia adalah langkanya portfolio investment dan belum menariknya Indonesia menjadi serbuan FDI.

Bagi sektor swasta dan bisnis, dari sisi sektor perbankan masih relatif 'aman', sehat dan well capitalized dan relatif mampu bertahan dari terpaan dampak krisis finansial di AS. Tapi semoga tetap waspada, karena ancaman spill over tetap 'mungkin' terjadi jika pengaruh krisis finansial AS benar-benar mengglobal. Perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor utamanya kenegara-negara maju akan mengalami penurunan profit marjin dan penurunan permintaan. Pembiayaan investasi menurun karena adanya credit crunch,  hingga perbankan beitu berhati-hati dalam mengucurkan kredit.

Bagi sektor riil, hampir semua buyers AS default untuk kakao, kopi dan CPO. Buyers Eropa dan Jepang menunda bahkan menolak kontrak baru. Dampak perdagangan per September 2008 sudah menampakkan adanya penurunan pada CPO, kakao, sepatu, TPT, udang, kayu olahan dan furniture, kopi dan karet. Biaya untuk transport, cargo dan kapal naik hingga laba menurun. Rencana pengembangan multinational corporation ditunda, bahkan ada kekhawatiran dalam jangka menengah akan timbul PHK.

Tidak ada komentar: