Minggu, 05 Oktober 2008

Idul Fitri, Momen Religi,Ekonomi dan Tradisi

Jika kembali kapada hakekat Idul Fitri, maka sebagai manusia yang kembali ke fitrah tak banyak yang diharapkan selain meningkat keimanan-ketaqwaannya. Tapi jika kita bersedia melihat yang terjadi maka Idul Fitri merupakan momen religi dan ekonomi. Walaupun keduanya tak dapat disejajarkan, namun selalu saja beriringan. Kesempatan untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan kerabat dikampung halaman harus dibayar 'mahal' secara finansial, kenyamanan bahkan keselamatan. Secara finansial pasti, karena pulang kampung bagi sebagian orang kerap menghabiskan tabungan setahun sebelumnya.

Membawa oleh-oleh dan gengsi adalah bagian kelengkapan bagi sebagian orang, bahkan kabarnya...dealer sepeda motor dan mobil rame dikunjungi pembeli beberapa bulan bahkan saat sebelum hari besar tiba. Demi kenyamanan pasti, tapi juga demi menunjukkan kemapanan. Inilah yang 'mungkin' menarik orang baru untuk ikut kekota-kota besar mengadu nasib demi hidup yang lebih baik. Kalau kenyamanan, ya..pastinya tidak. Para pemudik rela macet berjam-jam dan berpuluh kilo meter demi membayar kerinduan. Bahkan menjadi bagian dari rangkaian perjalanan setahun sekali, macet, lelah...tapi sirna ketika mamasuki kampung halaman..mengenang kembali kenangan manis. Tak jarang keselamatan menjadi taruhannya, perjalanan jauh yang melelahkan, standar keamanan kendaraan, pelanggaran rambu dll memperburuk dan menambah daftar laka-lantas selama mudik dan arus balik.

Sungguh Idul Fitri amat "ngrejekeni" yang menurut orang jawa mendatangkan rejeki bagi hampir semua lapisan masyarakat. Toko baju, kue, emas...tukang parkir, tambal ban..wah semua kebagian rejeki. Jadi benar adanya, Idul Fitri adalah momen religi dan ekonomi. Jika kita lihat dinegara-negara lain, tidak ada yang semeriah dan seindah Indonesia kala meyambut Idul Fitri.

Mengalirnya rupiah dari kota-kota besar ke daerah menjadi bagian  yang tak kalah menarik, bahkan dibeberapa daerah bisa dirasakan...beberapa saat setelah Idul Fitri maka akan ada rumah-rumah yang berbenah, ditembok,dipagar..dan diterasnya parkir sepeda motor baru. Bisa disebut sebagai persembahan putra daerah kepada orang-orang rumah. Jika Idul Fitri memang menjadi bagian dari momen religi dan ekonomi, maka lebih daripada itu Idul Fitri adalah momen tradisi...sungguh tradisi yang indah walaupun silaturahmi dijaman modern bisa dijalin tanpa berhadapan...dengan surat,telpon,sms,dan chating...namun di Indonesia berbeda. Itulah indahnya tradisi silaturahmi di Indonesia...Semoga semangat Idul Fitri tak luntur dijalan ketika pulang kembali ke rantau...Semoga menjadi awal yang lebih baik...

Tidak ada komentar: